Monday, 16 April 2018

Petuah dari 10 Penulis Terbaik Indonesia

KEMARIN. Percaya atau tidak, lahirnya blog di dunia telah memberikan banyak manfaat untukku. Aku bisa menulis apa saja, mulai dari soal lezat-tidaknya sebuah hidangan, catatan kecil seusai traveling ke suatu tempat, hingga berpendapat atas pendapat orang lain di media sosial.

Blog memang tempat yang pas untuk belajar menulis dan berbagi informasi. Namun sayang, banyak orang mandek di tengah jalan lantaran berpikir bila membangun sebuah blog diperlukan kemampuan menulis, desain, teknik memotret, dan coding. Padahal yang dibutuhkan hanya niat.

Memang, mencari uang lewat blog atau monetizing adalah tujuan utama para blogger. Sebelum mengarah ke sana, alangkah baiknya menjadikan blog sebagai alat mencari ilmu. Aku jamin, kegiatan blogging bakal lebih menyenangkan.

Source: soviet-art.ru

Jika kendalanya adalah mempercantik blog, tak perlu khawatir, kalian bisa lihat caranya di sini. Kebetulan, aku salah satu fans dari pemilik blog tersebut.

Dan jika batu penarungnya adalah bingung harus memulai dari mana, mungkin petuah 10 penulis terbaik Indonesia ini bisa membantu kalian menemukan inspirasi. I tell you something, it's work to me everytime I read it.


Maggie Tiojakain

Untuk memulai menulis, kamu harus:1) Kembangkan obsesi kamu. 2) Jangan terlalu lama mencari inspirasi. 3) Observasi perluas wawasan.


Source: maggietiojakin.com

Sebagai seorang penulis, dia telah menerbitkan banyak buku. Ketika menjadikan membaca sebagai hobi, buku kumcer miliknya, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa adalah buku yang pertama kali aku beli. Dia juga banyak menerjemahkan karya penulis luar negeri di situs fiksilotus.com.


Dewi 'Dee' Lestari


Lakukan aja dulu. Nggak mungkin buat tulisan yang langsung bagus. Jangan takut gagal. Menulis butuh jam terbang.


Source: islamlib.com

Karya penulis yang satu ini paling banyak digemari. Tak sedikit karyanya diadopsi menjadi sebuah film. Tak salah kalau wejangan Dee menjadi pemicu semangat penulis pemula.


Djenar Maesa Ayu


"Hidup ini sendiri memang fiksi. Sering kali hanya imajinasi."

Source: sumber.com

Serius, kalian harus baca karyanya yang berjudul Nayla. Bingung? Sama. Itulah kenapa kalian harus lebih banyak karyanya.


Andrea Hirata

Menulis itu passion. Tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar ingin menulis?


Source: pepnews.com

Aku berani bertaruh, rata-rata orang Indonesia pasti pernah membaca novel fenomenal Laskar Pelangi. Setidaknya, kalau belum pernah membaca, paling nggak ya menonton filmnya.


Ahmad Fuadi


Menulis adalah salah satu cara menjadi manusia terbaik menuju tuhan.

Source: viva.co.id

Hmmm... penulis trilogi 5 Menara ini membuka pikiranku kalau menulis juga termasuk ibadah. Iya nggak sih? 


Arswendo Atmowiloto

Menulis itu tidak sulit, hanya saja kita tak pernah memahaminya. Sehingga tak terbiasa.

Source: radioidola.com

Dari semua karyanya, aku paling suka Imung, cerita tentang detektif cilik yang sarat akan makna budaya. Namun dia lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan seri Keluarga Cemara.


Seno Gumira Ajidarma

Fungsi sastra sama pada setiap zaman, dia membongkar tabu.

Source: bbc.com

Orang-orang yang mengikuti perkembangan menulis di era Orde Baru, pasti tidak asing dengan Seno Gumira Ajidarma. Aku sendiri suka sekali membaca kumcernya yang berjudul Saksi Mata, sebuah tulisan yang menggambarkan situasi di Timor Timur. Sekarang, jejak rekammnya bisa ditemukan di panajournal.com.


Raditya Dika

Keresahan merupakan premis utama. Mulailah menulis dengan keresahan.

Source: wowkeren.com

Terakhir kali aku dengar tentang Raditya Dika, dia tengah sibuk membangun channel youtube-nya.


Eka Kurniawan

Menulis: pertama kita meniru, kedua memodifikasi.

Source: nytimes.com

Tentang Eka, coba saja cek di sini!


Budi Dharma

Menulis adalah keuletan dan proses, bukan bakat. Temukan momen. Harus dicari, bukan ditunggu sampai muncul.

Source: thejakartapost.com

Orang-Orang Bloomington dan Kritikus Adinan adalah antologi cerpen yang paling pertama kutemukan saat bertandang ke perpustakaan.

___

Dapat disimpulkan bahwa menulis adalah sebuah proses yang harus dilakukan berulang-ulang. Untuk dapat memulainya, terlebih dahulu kita harus mencintainya. Bahkan dalam hal apapun, jika dilakukan atas dasar cinta, semuanya akan terasa mudah. Ciyeee...

Terlebih, jika ingin mahir menulis, kita harus perluas wawasan dengan membaca. Dengan begitu, seiring berjalannya waktu, kemampuan menulis akan bertambah dan akan terus bertambah. 

Membuat karya tulis memang gampang-gampang susah. Dari berbagai buku yang telah aku baca, sedikit orang beranggapan bahwa menulis itu gampang. Sudah menemukan inspirasi? BW

Sunday, 1 April 2018

The Not Important Thing (1)

KEMARIN. Sejaku dulu, aku selau menjadikan blog ini sebagai wadah menyalurkan unek-unek. Maunya sih, ingin dipakai sebagai media curhat di kala senang atau pun gembira. Namun, masih banyak hal penting yang harus disoroti lebih dalam.

Nah, kemarin, saat lagi sibuk ngerapiin folder di PC, aku mendapati tulisan-tulisan nyeleneh yang sampai sekarang masih nggak percaya pernah membuatnya. Kebanyakan tulisan dibuat khusus untuk berlatih membuat straight news, cerpen, hingga esai. Bahkan sesekali aku menggabungkan antara berita dengan cerpen. Sehingga terjadilah fiksi semerawut yang kalau dilihat secara saksama akan memusingkan kepala si pembaca.

Just remember, semua nama dalam tulisan ini merupakan tokoh fiktif. Terlebih cerita yang disuguhkan, semuanya waluh belaka. Hanya saja, latar yang aku gunakan merupakan lokasi nyata.

___

Source: Viva.co.id

Minggu, 06 Juli 2014

Demam Piala Dunia - Sorak Sorai Warung Jamu

Bengkuring. Suasana meriah terlihat di Bengkuring, Kelurahan Sempaja Selatan (setelah pemekaran, sekarang daerah itu berganti menjadi Sempaja Timur), Samarinda Utara. Udara dingin tidak menghalangi warga yang tinggal di daerah Jl Pakis untuk mengadakan acara nonton bersama Piala Dunia 2014.

Pertandingan sepakbola antara Argentina melawan Belgia yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta di Tanah Air tadi malam mengundang hati warga untuk menggelar acara nobar (nonton bareng) di sebuah depot jamu. Bengkuringnish, sebutan lain dari warga Bengkuring, yang datang ke tempat itu sangat antusias. Lantaran pertandingan kali ini merupakan babak penentuan menuju semi-final.

"Pokoknya Argentina harus menang, biar nanti di final ketemu Brazil," ujar Slamet, Bengkuringnish yang datang di acara bergelar World Cup Jamu tersebut.

Sambil menunggu kick-off yang dimulai pukul 00.00 Wita, sejumlah Bengkuringnish menggelar meja, bermain kartu dengan taruhan kecil. Warga yang tidak mempunyai uang, membunuh waktu dengan bermain game Clash of Clan.

"Biasanya kalau nunggu piala dunia, saya menambah Giant dan Goblin untuk menyerang clan lain," kata Saprol, yang nampak seperti anak Tuyul saat diwawancarai.

Terlepas dari semua itu, salah satu tetua Bengkuring, Frangki Sinatra mengaku senang dengan aktivitas warga selama Bulan Ramadan. Ia mengatakan kalau kegiatan seperti ini harus diadakan setiap minggu.

"Saya sangat gembira melihat Bengkuringnish yang beramai-ramai memasang layar lebar untuk melihat jagoan mereka bertanding," ungkapnya. BW

___

Jika memang ada warga Bengkuring yang secara sengaja maupun tidak membaca postingan ini, aku harap ia mau menceritakan pengalaman mereka di kolom komentar. Sehingga menjadi inspirasi Bengkuring Weekly untuk terus mengisahkan keindahan Bengkuring. ;)

Friday, 23 March 2018

Terperangah oleh "Tuhan Sembilan Senti"

KEMARIN. Duduk termenung di ruang tunggu salah satu kantor kecamatan di Kota Samarinda, melahirkan perasaan risih, mengantuk, dan sesekali menguap. Aku mencoba membunuh waktu, mencari apa saja bahan bacaan yang bisa dibaca.

Maklum, haus dengan bahan bacaan seakan tak bisa dihindari, ditambah jaringan internet yang ngadat, membuatku tak bisa berselancar di fiksilotus.com atau basabasi.co.

Sebuah reklame besar dengan tulisan yang juga besar terpampang nyata di hadapan (secara teknis berada di balik petugas kecamatan yang tengah sibuk melayani masyarakat). Di sana terdapat serangkaian kata, frasa, bahkan kalimat tersusun rapi, dengan ejaan yang telah disempurnakan, membentuk sebuah karya yang kerap disebut puisi.

Yap, pihak kecamatan dengan percaya diri menempel puisi karya Taufik Ismail. Kemudian, alam bawah sadarku teralihkan. Hingga mata yang sedari tadi mencari sebuah intisari kehidupan berfokus pada bacaan tersebut. Aku pun mulai membaca, meski hanya di dalam hati.

Source: Threadless.com



Tuhan Sembilan Senti, Karya: Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi para perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hasnip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan memetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik perasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyebrangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita sungguh nirwana kayangan para dewa-dewi bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengungjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan osteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV_AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakkan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di pati pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil eeq-eeq orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidah ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu,hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-hala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia satu kantung dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang  rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang banyak kelompok ashabul yamiin dan sedikit golongan ashabuss yimaal?

Asap rokok mereka mengepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawai'i. Kalau tak tahan, di luar sajalah merokok. Laa taqutuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan
indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum mensucikan diri, tidak perlu ruku' dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

___

Mungkin dengan menonton video ini, kamu bisa jauh lebih mengerti. BW




Saturday, 17 March 2018

Tamasya Biduk-Biduk (Part 1); Pick-Up yang tengah Diuji Kesabarannya

KEMARIN. Senja ketika kami memutuskan bertamasya menuju Biduk-Biduk dengan mobil pick-up, mulut Emen tengah komat-kamit, masyuk dengan rentetan doa yang dilafalkannya. Dia pun menginjak pedal gas, seraya mengucapkan bismillah dengan nada rendah. Roda-roda pick-up mulai menggelinding pelan. Biduk-Biduk, here we come, gumamku dalam hati.

September 2016, menjadi awal dari perjalan menuju Biduk-Biduk, yang hingga sekarang masih dan terus terkenang di dalam hati.

Sebelumnya, layaknya pekerja kantoran, mengerjakan skripsi menjadi hal pelik apabila terus dipikirkan, ucap seorang kawan. Untuk itu, kawan-kawanku di bangku kuliah sepakat meregangkan pinggang lewat suasana baru. Jauh dari layar laptop. Jauh dari corat-coret lembar konsultasi. Dan jauh dari kepeningan pendapat ahli yang rencananya akan dimuat dalam halaman demi halaman di carik skripsi.

Satu-satunya solusi adalah bertamasya. Setelah berkompromi sekian lama, kami pun setuju: destinasi yang disamperi harus mengantongi pasir putih, laut biru, dan nelayan yang tengah sibuk menjala ikan di tengah deru ombak.

Yap, kami sepakat Biduk-Biduk, Kabupaten Berau adalah lokasi yang diidamkan. Sebuah tempat di mana kalian bisa melihat penyu berenang tanpa ada gangguan. Setidaknya, itu yang aku lihat di channel Youtube para pemuja petualangan.

Satu hal lagi yang mesti disampaikan. Sebenarya aku adalah satu-satunya orang yang sudah lulus kala itu. Tetapi kawan-kawanku tidak. Karena kebetulan pada masa itu aku menganggur. Jadi, ya, oke, aku ikut.

Kami menamakan diri: Biduk-Biduk Squad (sesungguhnya ini hanya bisa-bisanya aku saja, namun aku pikir kawan-kawan bakal setuju ketika mendengar julukan tersebut). Kami semua berjumlah sebelas orang. Terasa sempurna jika Bengkuringnish (pembaca setia Bengkuring Weekly) mengenal kami lebih dekat. 

🙉 Maul (narator dalam kisah ini, di mana bakal kami ingat sepanjang masa, sampai bisa diceritakan kembali kepada anak-cucu kami).

😎 Emen (supir sekaligus pawang sang pick-up).

😂 Fayon (pemintal cerita, penghilang rasa kantuk, dan satu di antara kawanku yang aku pikir hidupnya selalu menyenangkan).

👦 Edi (sampai sekarang masih memikirkan bentuk bumi yang mirip dengan tanah lapang di belakang pekarangan).

👳 Emon (petunjuk arah, hidupnya didedikasikan untuk petualangan).

👽 Fajri (ingin seperti Emon).

Dan lima orang lagi yang menjadi pemanis dalam kisah berbalut keseruan ini; Reza, Irwan, Dedi, Riandi, dan pacar Riandi yang aku selalu lupa namanya (becanda kok, namanya Putri, akrab dipanggil Jun Su).

The Biduk-Biduk Squad


 Perjalanan Nekat

Seperti yang aku bilang, kami menggunakan mobil pick-up milik Emen menuju Biduk-Biduk, dari Samarinda. Gilanya, ada 11 orang yang menggandul di kereta besi tersebut. Tiga orang duduk berhimpitan di depan. Sedangkan delapannya lagi berada di bak belakang, duduk memegangi lutut, duduk dengan kaki berselonjor, bahkan sesekali tidur bersesakkan seperti ikan sarden di dalam kaleng.

Satu level di atas gila dan nekat, bak belakang yang mereka tempati tidak memiliki atap. Dalam perjalanan, kawan-kawanku hanya bisa berdoa langit mau bermurah hati tidak menurunkan air hujan.

Aku, Fayon, dan Emen duduk di kursi depan. Merasa beruntung? Nggak juga. Pasalnya, kaki-kaki kami saling menempel, menyebabkan keram yang berkepanjangan. Satu-satunya yang bisa kami syukuri kala itu adalah, kita tidak kebasahan bila langit menumpahkan cairannya.

Kami sudah melewati seperempat jalan ketika pick-up yang dikemudikan Emen melintas di Jembatan Sangatta. Sementara Fayon tengah membicarakan ihwal pernikahan, pikiranku larut ke dalam isi tas yang kutaruh di bak belakang. Aku mencoba mengingat, apakah membawa celana dalam cadangan atau tidak. Jika memang lupa, maka bencana akan menimpaku.

Di rumah, semalaman suntuk aku menyibukkan diri, merenungi apa saja yang harus dibawa ketika menuju suatu tempat yang didominasi pasir putih dan laut biru. Benda terpenting adalah celana dalam. Aku selalu merasa ini merupakan masalah besar, karena sejak SMP aku tidak pernah mengenakan sempak. Sebuah mitos menyatakan tidak memakai sempak bisa memperbesar titit seorang pria selalu menjadi alasan. Meski tidak terlalu percaya, aku menganggut kalau hal itu benar.

Perjalanan darat dari Kota Samarinda menuju biduk-biduk bisa memakan waktu 18 jam. Menurut Emon, yang kami tunjuk sebagai PJT (Penanggung Jawab Tamasya), kami bisa memotong waktu dengan cepat kalau melewati jalur perusahaan sawit. Memangkas waktu enam jam, jelas Emon saat ditanya Fajri.

Lelah menyangkut di wajah kusam kami.

Jika dilihat dari peta, perjalan ke Biduk-Biduk akan membentuk sebuah garis lurus, apabila dicoret dengan pensil. Kami harus melewati berbagai tempat, berbagai daerah. Jujur, dari dulu aku selalu bermimpi untuk menjelajahi semua lokasi menggembirakan yang ada di Pulau Borneo, taktala rajin membaca buku Kalimantan Tempo Doeloe.

Akhirnya, impian bodoh melihat pohon-pohon besar diwujudkan saat berjalan menuju Biduk-Biduk. Aku ingin seperti Indiana Jones, menjadi seorang penjelajah. Tapi tak pernah tahu harus memulai dari mana. Aku pernah berpikir semasa kuliah salah masuk jurusan. Seharusnya, aku mengambil bidang arkeologi, bukannya komunikasi.

Tapi setelah dipikir ulang, ada kok, penjelajah yang beda tipis dengan Indiana Jones, bukan dari ahli Arkeolog. Contohnya saja Jejak Si Gundul. Kalau memang dia boleh diaktakan petualang.

Fayon masih bercerita tentang manisnya pernikahan, Emen dan aku merespon dengan semangat, karena pembicaraan tersebut sungguh berkualitas dan tak bisa diulang. Sementara itu, orang-orang di belakang sayup-sayup terdengar memperdebaktkan soal bulat-datarnya bumi, bisa ditebak Edi yang membuka forum itu.

Sedangkan di atas, sinar bulan menjadi saksi bahwa kami sudah melalui ribuan kilometer, asing dari rumah, guna menyambangi Biduk-Biduk yang dinantikan.


Ada truk amblas, Tidak Salat Jumat, dan Harus Melihat Orang Berak

Sekitar pukul setengah lima pagi, Aku meminta Emen untuk berhenti di sebuah masjid karena azan subuh sudah terdengar. Emen memarkirkan pick-up tepat di samping jembatan. Tak jauh dari sana, terdapat masjid yang terbuat dari rangkaian kayu, megah di tengah perkampungan. Aku bertanya kepada Emen, di mana kita. Dia menjawab, ini namanya Sangkulirang. Sekembalinya dari masjid, kawan-kawan masih lelap dengan mimpi masing-masing.

Reza dan Fajri numpang tidur di beranda masjid. Edi izin buang air kecil kepada merbot yang tengah menyapu lantai. Kemudian ketika semua sudah siap, belek-belek di mata sudah dibersihkan, kami melanjutkan perjalanan.

Guncangan hebat membangunkanku dari mimpi singkat berenang bersama lumba-lumba. Aku melirik jam di ponsel, pukul 7 pagi. Matahari pagi menyambut hangat nafasku yang baunya seperti bangkai biawak. Emen memarkirkan pick-up di antara mobil-mobil yang juga ingin menyebrang. Oh, ya, kami telah sampai di pelabuhan mungil, yang nantinya membantu kami ke tanah seberang, ke perusahaan sawit yang Emon ceritakan. 

Perjalanan di atas kapal feri waktu itu sangat menyenangkan, lantaran kru kapal memutar tembang rap lokal yang membuat jempol kakiku bergoyang. Mengingatkan aku tentang masa silam, di mana aku masih menyembah musik rap.

Seru bercampur senang, pick-up andalan melintasi sungai menuju Biduk-Biduk.
Bedak tebal dan biskuit yang digenggamnya akan menjadi sesuatu yang diingatnya sepanjang masa. Di mana anak itu harus menempuh jalur yang tak biasa guna menuju sekolah. Hidup pendidikan di Indonesia!
Di tengah perjalanan, kami mendapati anak-anak lokal yang ingin pergi ke sekolah menggunkan perahu kayu.

Kami berhasil menyebrang. Perlahan ban pick-up yang dipaksa Emen memutar berjam-jam kembali menjalankan tugasnya, menggelinding di permukaan tanah. Di kanan-kiri jalan nampak hamparan kebun kelapa sawit yang begitu besar. Kata seorang kawan, kebun itu milik salah satu pejabat di daerah sini.

Mujur aku duduk di depan. Karena aku bisa melihat monyet merah yang lalu lalang, menyebrang jalan. Bilang seorang kawan lagi, monyet itu tergolong langka. Orang urban seperti kami matanya telah dimanjakan dengan pemandangan tersebut.

Lalu, sebuah kejadian yang kami tak perkirakan terjadi. Sekitar pukul 10.15 Wita, kami harus berhenti di tengah perjalanan, menunggu sebuah truk pengangkut kelapa sawit yang terjebak dalam kubangan lumpur untuk dibebaskan. Beberapa jam kemudian, antrian semakin panjang di belakang kami. Begitu juga antrian dari arah berlawanan. Padahal hari itu Hari Jumat Yang Agung.

Amblas!
Fayon: "Lelah abang, daek!"
Maul: "Sama kak, ade juga lelah, abis liat orang eeq."

Sudah pukul 12.13, pikirku. Pasti azan salat Jumat sudah berkumandang. Aku tidak tahu bagaimana hukumnya. Aku merelakan untuk tidak melaksanakan ibadah hari itu.

Aku beserta kawan-kawan bingung harus berbuat apa, lantaran harus menunggu sang supir menggeret truknya dari lubang sialan. Fajri, kawanku yang sepeti Burung Tiung, suka berak di manapun dia berada, memberitahukan kepada kami kalau ada sebuah kolam mengalir dengan air yang jernih di dekat truk amblas. Hanya perlu berjalan kaki sedikit dari titik tempat kami berpijak. Aku dan Edi sepakat untuk pergi ke sana, membunuh waktu sembari membersihkan diri.

Benar kata Fajri, airnya begitu jernih, sampai-sampai aku ingin terjun ke dalamnya. Namun sayang saat bersamaan, salah satu supir truk yang mobilnya ikut mengantri datang ke kolam kami. Mencari tempat terbaik yang menurutnya tidak bisa dilihat orang dan sialnya, dia membuka celana. Dia berak, kataku dalam hati. Tak perlu ancang-ancang, aku enyah dari kolam yang baru saja kami temukan, tak ingin menatap pria jahanam itu membuang hajat.

Selang beberapa saat kemudian, Emen ikut turun, juga mencari lokasi empuk untuk membuang isi sarapannya. Aku yakin, Emen dan si pria bajingan berjongkok sambil beradu pandang.

Ketika aku sudah sampai di pick-up, Emen yang sudah selesai membuang hajat di tempat indah yang lima detik kemudian menjadi sarang lalat hijau itu mengatakan bahwa kami sudah siap berangkat. Pedagang ikan yang sudah kehabisan kesabaran telah berhasil mencari celah, menciptakan jalur yang bisa dilalui oleh orang-orang. Kami pun kembali dalam perjalanan.

Tak hanya sampai di situ, perjalanan kami menjadi semakin mengerikan karena harus melewati jalan tanah yang berlumpur. Terhitung ada beberapa kali pick-up yang kami tumpangi amblas di tengah jalan.

Alhamdulillah-nya, pick-up Emen yang sehari-hari digunakan untuk menggendong pasir, kayu, serta material bangunan lainnya, menunjukkan kekuatannya di medan tersebut. Terlebih kesolidan kami sebagai tim yang ogah-ogahan berhasil mendorong mobil keluar dari zona lumpur.

Aku kembali berucap Alhamdulillah ketika ban pick-up berputar di jalur aspal hangat. Dan kemudian aroma laut mengobati semua keluh kesah kami, yang sepanjang perjalanan berkata "kok lama betul".

Lambaian tangan anak-anak kecil menyambut kami. Pick-up Emen melaju pesat saat melewati gapura bertuliskan "Selamat Datang di Biduk-Biduk". BW

Lihat video ini, pastikan diri kalian berkunjung ke Biduk-Biduk!




___

Bersambung...

Saturday, 17 February 2018

(Menonton Film): The Last Jedi; Akhiran dan Awalan

KEMARIN. Aku sudah merencanakan menonton episode kedelapan Star Wars sejak setahun lalu. Atau mungkin dua tahun lalu. Terserah.

"The Last Jedi pasti bakal keren," kata seorang kawan, usai menyaksikan Star Wars: Rouge One di penghujung 2016.

Source: starwars.com

Nyatanya, hal itu tak pernah terjadi. Kami semua terlalu sibuk mengejar keping-keping emas. Alhasil kami memutuskan untuk menunggunya di Fox Movies.

Dibumbui rasa penasaran yang begitu hambar, dan kebetulan hari itu adalah hari liburku, aku dan sahabatku paling setia di dunia pergi menonton Star Wars: The Last Jedi pada hari terakhir penayangan.

Suasana bioskop cukup sepi. Barisan bangku teratas paling diminati kala itu. Kami sendiri memilih duduk di B5 dan B6, terhalat satu bangku dari tangga naik.

Lantas, mataku dibuat takjub pada pertempuran udara yang dipimpin Poe Dameron (Oscar Isaac). Lead keren dalam film ini sekaligus menegaskan bahwa Star Wars episode ke-VIII layak untuk ditonton. Bukan hanya untuk taipan, tapi juga masyarakat luas.

Dari awal, aku sudah menyangka kalau film ini akan menjadi yang terbaik di bulan Desember 2017. Semenjak diambil alih Disney, Star Wars menjelma menjadi opera ruang angkasa yang dipenuhi "keajaiban". Meski tidak seperti Frozen atau Beauty and The Beast.

Para fan boy mungkin setuju jika Luke Skywalker adalah sosok yang paling dinantikan dalam petualangan antar galaxy kali ini. Namun, yang perlu dijelaskan, apakah anak kandung dari Anakin Skywalker itu layak dinantikan?

Mungkin ulasan ini bakal menambah wawasan Bengkuringnish (pembaca setia Bengkuring Weekly) yang cukup jauh ketinggalan cerita luar biasa Star Wars.


Luke Skywalker sang Legendaris

Sebelum membuat tulisan ini, terlebih dahulu aku mencari tahu apa yang dipikirkan orang lain tentang Luke. Itu dikarenakan frame of reference-ku yang tergolong lemah.

Source: starwars.com

Penjelasan menarik datang dari Nicholas Barber dalam laman BBC.com, mencerahkan pandanganku tentang tokoh tersebut. Dia berpendapat, kemunculan Luke dalam film ini mirip seperti karakter yang dimainkan Clint Eastwood dalam Unforgiven (1992).

Aku menganggut setuju. Semua orang berpikir bahwa lelaki tua dengan pedang laser bisa menjempalitkan keadaan dalam perang melawan jutaan tentara fasis. Ribuan anggota resistance, termasuk Rey (Daisy Ridley) mencomooh reputasi legendaris yang diemban Luke.

Pada akhirnya, Luke memberi penonton kepuasan. Mengisbatkan dirinya memang cocok mendapatkan julukan "sang legendaris".

Scene favoritku adalah ketika Luke melakukan aktivitas di pulau pelariannya. Rian Jhonson sang sutradara membuat si Empu Jedi memanjat tebing, memancing, dan mengobrol dengan alien lokal. Luke pantas mendapatkannya. Lantaran di Force Awakens (2015) ia hanya kebagian satu ekspresi muram tanpa dialog.

Satu lagi, kemiripan film ini dengan The Empire Strikes Back (1980) adalah ketika Rey menyambangi Luke untuk diajari cara mengendalikan force. Sama halnya dengan Luke yang mencari Master Yoda di tengah belantara agar force yang dimilikinya bisa digunakan melawan Darth Vader.


Goodbye Carrie Fisher

Source: nerdist.com

Cukup dengan Luke, mari kita beralih ke saudara kembarnya, Leia. Bagaimanapun juga, semua penonton terbawa pada momen mengharukan dari kematian Carrie Fisher pemeran sang putri, pasca produksi film ini. The Last Jedi menjadi spesial dan semua penggemarnya memberi penghormatan terakhir.


Snoke's Theory is Sucks

Source: reddit.com

One last thing, dalam film ini juga Kylo Ren (Adam Driver) mengukuhkan kebengisannya dengan membunuh Supreme Leader, Snoke (Andy Serkis). Buzzer dari Teori Snoke yang diciptakan para penggemar seakan runtuh. Meski begitu, tanda tanya siapa Snoke masih menjadi misteri.
___

Hasilnya, tercipta kedamaian di seantero galaxy untuk sementara waktu. Banyak yang berpikir bahwa waralaba Star Wars akan kehabisan ide selepas peninggalan George Lucas. Namun faktanya, certia yang dihadirkan sederetan penggiat film di Holywood justru membuatnya menarik. BW

Friday, 9 February 2018

Penyesalan di Balik Super Blood Moon

KEMARIN. Ada dua hal yang terlintas di benakku saat terjadi fenomena super blood moon semalam. Pertama, aku sangat menyesal karena tidak bisa melaksanakan salat gerhana. Kedua, di balik penyesalan itu, aku diperlihatkan secercah kebahagian dari binar bola mata Mamak yang indah.


Super Blood Moon dari sudut Kota Samarinda (taken by @Wkndsss)

Padahal, untuk bagian pertama, aku sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan afdal. Aku duduk bersandar pada tembok di salah satu masjid di kawasan Balaikota Samarinda. Menatap layar ponsel, membaca dengan hikmat tata cara salat gerhana yang dikirimi kawan di group WA.

Singkatnya, terkumpul niat intensif untuk melaksanakan ibadah tersebut. "19.48 Wita ya," gumamku dalam hati.

Dan untuk yang kedua, perasaan ini datang saat aku tidak sanggup melaksanakan apa yang sudah direncanakan.

Di tengah bertugas, asma yang aku idap sedari kecil mendadak kambuh. Aku tidak menyalahkan cuaca yang waktu itu memang kelewat dingin. Tidak pula menyudutkan paru-paruku yang tidak normal seperti orang lain. Aku hanya menyesal tidak bisa bangkit dari peraduan ketika super blood moon telah nampak.

Sekitar pukul sembilan malam, Mamak membangunkan aku untuk melaksanakan salat Isya. Wantia tercantik di seantero Bengkuring itu bilang, kalau bulan sudah hampir tertutup penuh. Dan orang-orang di masjid sudah melaksanakan salat dua rakaat. Sontak, aku bergegas mengambil air wudhu, kemudian mengangkat takbir.

Aku ingin kembali ke ranjang kesayanganku, tapi Mamak melarang. Dia sekali lagi berkata, "kenapa kada ikam keluar setumat, lihat nah bulannya!"

Dengan rasa malas masih menyelimuti, aku keluar rumah tanpa mengenakan alas kaki. Mamak benar, benda langit yang berbentuk lingkaran itu terlihat elok taktala bayangan gelap hampir memakannya.

Aku berpaling ke arah Mamak yang sedari tadi ada di sampingku. Aku menatap matanya yang mungil disertai cahaya bening di sisinya. "MasyaAllah," kata Mamak dalam suara pelan.

Saat bulan sudah tertutup penuh, kami kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan hidup. Momen kecil itu takkan aku lupakan sepanjang masa. Berdiri di tengah jalan, menghalangi orang yang lalu lalang. Bersama Mamak walau lima menit.


PERISTIWA LANGKA

31 Januari 2018. Hampir semua media baik cetak, elektornik, maupun online memberitakan tentang super blood moon yang akan terjadi pada pukul 19:48 Wita. Terhitung seminggu sebelum perisitiwa itu terjadi, aku sudah berhajat akan mengabadikannya di Bengkuring Weekly (BW).

Beruntung, salah seorang teman yang jago memotret dengan hati--dan badan yang besar hehe--mau menghadiahkan aku hasil jepretannya. Alhasil tulisan ini menjadi lengkap dengan karya keren miliknya.

(Kalian bisa lihat lebih banyak karyanya di akun Instagram @Wkndsss)

Kenapa aku sangat terobsesi dengan super blood moon? Fenomena lunar ini tergolong langka lantaran belum pernah terjadi lagi sejak 150 tahun silam. Super blood moon terakhir kali muncul pada 31 Maret 1866.

One thing, yang membuat supermoon sekaligus blue moon ini spektakuler adalah kenyataan bahwa fenomena ini berbarengan dengan peristiwa gerhana bulan total.

Cukup menjelaskan kenapa para Manusia Saiyan berubah bentuk saat terjadi bulan purnama. Kemungkinan besar jika mereka melihat super blood moon, akan tercipta monster yang sangat mengerikan.

(Sorry, aku nggak tahan ingin menyampaikan hipotesis ini. Mari kita lanjutkan ke fenomena super blood moon).


Masih Ada Gerhana Lain Pada 2018?

Tersirat kabar burung kalau gerhana bulan akan kembali meyapa Indonesia pada 28 Juli 2018 mendatang. Saat peristiwa ini terjadi, bulan akan tampak kemerahan bagi penduduk bumi. Sulit menerka bagi kalian yang tinggal di Planet Namec. Again?

Memiliki selisih waktu satu jam dengan Kota Tegal, maka diperkirakan gerhana bulan akan terjadi mulai pukul 01.14 Wita di Bengkuring City. Durasinya akan berlangsung selama satu jam 42 menit.

In case, aku hanya ingin mengingatkan kalian agar segera menjauhi keluarga Son Goku saat peristiwa ini terjadi. Kalian pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan. Potong ekornya saat mereka mulai melamun sambil menengadah ke arah super blood moon. BW

Saturday, 6 January 2018

Jersey Baru Bengkuring FC; Makna dari Logo Kepiting dan Slogan Teminum

KEMARIN. Kehebatan Bengkuring FC, keseblasan yang berasal dari kampung halamanku itu terus menjadi jembatan penghubung silaturahmi antar sesama pemuda Bengkuring.

Skuad Bengkuring FC di laga pertama tahun 2018

Diawal 2017, atau pertengahan, aku lupa, pokoknya tahun 2017, para youngster Bengkuring yang hobi bermain sepakbola membentuk sebuah klub yang bergelar Bengkuring FC.

Berangkat dari keisengan belaka, klub yang bermarkas di Bengkuring, Sempaja Timur, Samarinda Utara itu menjelma menjadi patriot olahraga yang menakjubkan.

Sejak remaja, Bengkuringnish (baca juga sejarah Bengkuring) sudah sering bermain dan berlatih bersama di lapangan sepakbola yang berjuluk "Lapangan Milan". Namun sayang, lapangan tersebut sudah tak terurus lagi dan dipenuhi ular berbisa yang mematikan dari bermacam jenis (mitosnya).

Hobi tersebut ternyata membawa keinginan kami untuk berkembang ke arah yang lebih profesional. Tak heran beberapa waktu terakhir, Bengkuring FC kerap mengikuti kompetisi tarkam bergengsi untuk menambah jam terbang.

Oleh karena itu, untuk meingkatkan kehebatannya, tim yang dijuluki Teminum ini meluncurkan jersey perdana dan teranyar.

Lantas, apa makna yang tersirat di balik logo Kepiting dan slogan Teminum itu?


Logo Kepiting

Makna Kepiting pada logo jersey Bengkuring FC beda-beda tipis dengan cerita kepiting mistis dari Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat.


Tampak depan jersey Bengkuring FC

Di mana, di pulau tersebut terdapat kepiting berukuran 30 cm dan jalannya sangat lamban. Kepiting ini dilarang ditangkap, apalagi dikonsumsi. Penduduk setempat percaya, jika bertemu dengan kepiting itu maka yang melihat akan mendapat rezeki.

Bisa disimpulkan bahwa, gambar Kepiting yang terdapat di jersey Bengkuring FC akan membawa rezeki, baik yang melihat maupun yang mengenakannya.


Sloga Teminum

Teminum adalah frasa super yang bisa membangkitkan semangat para punggawa Bengkuring FC. Emang sulit jelasinnya. Teminum tidak bisa dideskripsikan denga kasat mata. Teminum cuman bisa diketahui oleh pemuda asli Bengkuring atau orang yang akrab dengan pemuda Bengkuring.


Tampak belakang jersey Bengkuring FC

Ini lebih seperti ungkapan bijak yang dikatakan William Shakespeare:


"Cinta tidak akan tampak lewat mata, tetapi dengan pikiran. Kemudian sayap cinta akan membutakannya."

Teminum. Benar-benar kata mujarab untuk membakar semangat dalam berolahraga. Atau ingin penjelasan lebih rinci, simak video berikuti ini.



___

Pada akhirnya, Bengkuring FC hadir sebagai wadah pemuda di seantero Bengkuring untuk saling menyambung silaturahmi (baca juga: pemuda Bengkuring peduli korban banjir). Di mana ketika beranjak dewasa, waktu luang agak sulit dicari untuk berkumpul, tertawa, dan bercanda bersama. Forza Bengkuring FC! BW